Tuesday, September 5, 2017

Mengapa Presiden Indonesia Selalu Berasal Dari Jawa?

Fitria Rahmarisya

Unique Blog | Mengapa Presiden Indonesia Selalu Berasal Dari Jawa? - Indonesia memiliki banyak suku dari berbagai pulau yang juga memiliki banyak penduduk. Tapi,pernahkah anda sadar dan berpikir jika Indonesia memiliki Presiden yang banyaknya dari suku jawa? Dari mulai Bung Karno sampai Pak Jokowi ternyata hanya Pak B.J.Habibie lah yang bukan orang Jawa. Pak Habibie pun merupakan Presiden sementara dan memiliki masa jabatan yang sangat singkat yaitu hanya 1 Tahun lebih 5 bulan.


Apa Yang Membuat Semua Presiden Kita Berasal Dari Jawa ?

Akibat Kekuatan Politik Pendahulu
Dalam dunia politik indonesia, ada sebuah kekuatan politik yang masih membedakan suku atau asal dari calon-calon presiden yang akan di jadikan presiden. Di dalam tiap Partai politik pada bursa pencalonan presiden/wakil presiden para petinggi-petinggi parpol yang umumnya orang jawa dan karena pendahulu/petinggi parpolnya juga orang jawa. Ini adalah Faktor Yang Sangat besar kenapa didalam bursa pencalonan presiden hampir tidak ada yang jebol untuk jadi capres dari masing-masing partai bahkan tidak ada kalaupun ada itupun hanya menjadi wapres sungguh.

2.  Calon Dari Orang Jawa Banyak Yang Berkompeten
Nah, bisa juga kemungkinan ini. karena faktor lebih banyaknya calon yang berkompeten dari jawa. Ini adalah hal wajar, sebab dahulu pemerintahan Belanda adanya di jawa sehingga setelah habisnya penjajahan pemerintahan indonesia langsung juga berpusat di jawa. Ini menyebabkan majunya kota-kota maupun daerah-daerah yang ada dijawa sehingga menghasilkan sumber daya manusia yang lebih maju ketimbang daerah-daerah di luar jawa. dan ini adalah wajar yang menyebabkan daerah-daerah di luar jawa lebih ketinggalan.

3. Banyak Orang Menginginkan Presiden Orang Jawa
kalaupun tidak langsung berkeinginan seperti itu setidaknya dari hasil survey setidaknya kalo bisa orang jawa ya orang jawa sajalah "itulah yang didapat dari hasil survey. Meskipun banyak juga yang berpendapat kalau ada yang lebih baik dari luar Jawa kenapa tidak?


4. Orang Jawa Sedikit Bicara Banyak Bertindak
Banyak orang yang mengatakan bahwa orang jawa itu kerjanya lama dan dinilai hanya sekelas menjadi pembantu. Ini patut dicatat juga, seorang pembantu tidak akan terpakai bila kinerjanya lambat. Jadi orang tersebut mengatakan dua hal yang saling bertolak belakang tentang orang jawa. Orang jawa terbukti lebih tekun dan giat dalam bekerja. dan dalam kinerjanya tidak terburu-buru.

5. Beberapa Ramalan Dan Kitab
Dalam ramalan Jayabaya terdapat kalimat jika Indonesia harus dipimpin orang yang memiliki nama berawalan atau berakhiran NO-TO-NO-GO-RO yang identik dengan orang Jawa. Selain itu dalam bait ke 22 ramalan Jayabaya dikatakan “Di Semarang Tembayat”.

Di dalam ramalan R.Ng. Ronggowarsito menyiratkan bahwa Satria VI (Satriyo Boyong Pambukaning Gapura) harus menemukan dan bersinergidengan seorang spiritualis sejati satria piningit (tersembunyi) agar kepemimpinannya selamat.

Dari ucapan Sabdo Palon dalam ramalan Sabdo Palon tersirat bahwa dengan fenomena alam yang digambarkan (seperti yang terjadi saat ini) menandakan bahwa Sabdo Palon beserta momongan (asuhan) nya,telah datang untuk mem-Budi Pekertikan bangsa ini (secara rinci terdapat di dalam Serat Darmogandul). Sabdo Palon secara hakekat adalah Semar.

Dalam tulisannya Ronggowarsito salah satunya menulis, 'Wong jujur bakal ajur' yang artinya orang jujur bakal hancur.

"'Wong jujur bakal ajur, itu dilihat dan dialami sendiri oleh Ronggorwarsito. Kenyataan sosial dan politik yang terjadi dicatat,"

Ada juga kalimat, "Zaman Edan, Nek Ora Melu Edan Ora Keduman" (Kalau tidak ikut menjadi gila, tidak akan kebagian ).
Satu lagi biar ada bahasan serupa dari daerah sunda dinamakan wangsit siliwangi.

”Ti mimiti poé ieu, Pajajaran leungit ti alam hirup. Leungit dayeuhna, leungit nagarana. Pajajaran moal ninggalkeun tapak, jaba ti ngaran pikeun nu mapay. Sabab bukti anu kari, bakal réa nu malungkir! Tapi engké jaga bakal aya nu nyoba-nyoba, supaya anu laleungit kapanggih deui. Nya bisa, ngan mapayna kudu maké amparan. Tapi anu marapayna loba nu arieu-aing pang pinterna. Mudu arédan heula.”

Artinya:

“Semenjak hari ini, Pajajaran hilang dari alam nyata. Hilang kotanya, hilang negaranya. Pajajaran tidak akan meninggalkan jejak, selain nama untuk mereka yang berusaha menelusuri. Sebab bukti yang ada akan banyak yang menolak! tapi suatu saat akan ada yang mencoba, supaya yang hilang bisa ditemukan kembali. Bisa saja, hanya menelusurinya harus memakai dasar. Tapi yang menelusurinya banyak yang sok pintar dan sombong. Dan bahkan berlebihan kalau bicara.”


”Sakabéh turunan dia ku ngaing bakal dilanglang. Tapi, ngan di waktu anu perelu. Ngaing bakal datang deui, nulungan nu barutuh, mantuan anu sarusah, tapi ngan nu hadé laku-lampahna. Mun ngaing datang moal kadeuleu; mun ngaing nyarita moal kadéngé. Mémang ngaing bakal datang. Tapi ngan ka nu rancagé haténa, ka nu weruh di semu anu saéstu, anu ngarti kana wangi anu sajati jeung nu surti lantip pikirna, nu hadé laku lampahna. Mun ngaing datang; teu ngarupa teu nyawara, tapi méré céré ku wawangi.”

Artinya:

”Semua keturunan kalian akan aku kunjungi, tapi hanya pada waktu tertentu dan saat diperlukan. Aku akan datang lagi, menolong yang perlu, membantu yang susah, tapi hanya mereka yang bagus perangainya. Apabila aku datang takkan terlihat; apabila aku berbicara takkan terdengar. Memang aku akan datang tapi hanya untuk mereka yang baik hatinya, mereka yang mengerti dan satu tujuan, yang mengerti tentang harum sejati juga mempunyai jalan pikiran yang lurus dan bagus tingkah lakunya. Ketika aku datang, tidak berupa dan bersuara tapi memberi ciri dengan wewangian.”

”Aya nu wani ngoréhan terus terus, teu ngahiding ka panglarang; ngoréhan bari ngalawan, ngalawan sabari seuri. Nyaéta budak angon; imahna di birit leuwi, pantona batu satangtungeun, kahieuman ku handeuleum, karimbunan ku hanjuang. Ari ngangonna? Lain kebo lain embé, lain méong lain banténg, tapi kalakay jeung tutunggul. Inyana jongjon ngorehan, ngumpulkeun anu kapanggih. Sabagian disumputkeun, sabab acan wayah ngalalakonkeun. Engke mun geus wayah jeung mangsana, baris loba nu kabuka jeung raréang ménta dilalakonkeun. Tapi, mudu ngalaman loba lalakon, anggeus nyorang: undur jaman datang jaman, saban jaman mawa lalakon. Lilana saban jaman, sarua jeung waktuna nyukma, ngusumah jeung nitis, laju nitis dipinda sukma.”

Artinya:

”Ada yang berani menelusuri terus menerus, tidak mengindahkan larangan, mencari sambil melawan, melawan sambil tertawa. Dialah Anak Gembala; Rumahnya di belakang sungai, pintunya setinggi batu, tertutupi pohon handeuleum dan hanjuang. Apa yang dia gembalakan? bukan kerbau bukan domba, bukan pula harimau ataupun banteng, tetapi ranting daun kering dan sisa potongan pohon. Dia terus mencari, mengumpulkan semua yang dia temui, tapi akan menemui banyak sejarah/kejadian, selesai jaman yang satu datang lagi satu jaman yang jadi sejarah/kejadian baru, setiap jaman membuat sejarah. Setiap waktu akan berulang itu dan itu lagi.”

Artikel ini dibuat semata-mata hanya ingin banyak orang tahu bahwa Presiden Indonesia kebanyakan dari suku Jawa. Semoga dapat menambah wawasan dan mendapat bayangan benarkah suatu saat nanti Presiden Indonesia bukan dari suku Jawa? kita lihat saja nanti. Semoga bermanfaat.

Referensi :http://matarishop.blogspot.co.id/2011/04/mengapa-presiden-selalu-berasal-dari.html?m%3D1&ei=6l8NMjXj&lc=id-ID&s=1&m=684&host=www.google.co.id&ts=1504287214&sig=ANTY_L0TPmhKb6GrrZeG6rtgsBeK5lY4Tw

https://www.kaskus.co.id/thread/59a9a3c6dc06bd3e1a8b4567/jawaban-ilmiah-mengapa-presiden-indonesia-selalu-dari-suku-jawa/

Powered by Blogger.